Pemberontakan Andi Azis Guncang Makassar pada April 1950
Pada tanggal 5 April 1950, pemberontakan yang dipimpin oleh Andi Azis terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan. Peristiwa ini berawal dari penolakan Andi Azis terhadap integrasi Negara Indonesia Timur (NIT) ke dalam Republik Indonesia Serikat (RIS), memicu bentrokan bersenjata di wilayah tersebut.
Andi Azis adalah seorang mantan perwira Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) yang juga menjabat sebagai Kapten KNIL dan Ajudan Senior Presiden Negara Indonesia Timur sejak 1947. NIT sendiri dibentuk pada Desember 1946 dan mencakup kepulauan Sunda Kecil, Maluku, dan Sulawesi. Setelah Konferensi Meja Bundar pada Agustus-November 1949, Indonesia menjadi negara federal RIS dengan 16 negara bagian termasuk NIT.
Namun, pada 30 Maret 1950, Andi Azis dan pasukannya bergabung dengan Angkatan Perang RIS (APRIS). Meski demikian, ketegangan politik terus terjadi karena adanya perbedaan pandangan tentang keberlanjutan NIT dan integrasinya ke NKRI.
Kronologi Pemberontakan di Makassar
Awal Konflik dan Penyerangan
Pada pukul 05.00 tanggal 5 April 1950, pasukan Andi Azis menyerang markas APRIS di Makassar dan menangkap Letnan Kolonel AJ Mokoginta, komandan pasukan pemerintah. Serangan ini menandai dimulainya pemberontakan bersenjata di Sulawesi Selatan.
Respon Pemerintah dan Penumpasan
Pemerintah RIS segera mengirim sekitar 900 pasukan APRIS dari Jawa untuk mengamankan situasi. Pada 7 April 1950, pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Alex Kawilarang tiba di Makassar untuk menumpas pemberontakan tersebut. Perlawanan berlangsung hingga pertengahan April.
Akhir Pemberontakan
Pada 21 April 1950, TNI berhasil menduduki kembali Makassar. Wali Negara NIT menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Andi Azis yang menyerahkan diri kemudian diadili dan dijatuhi hukuman penjara selama 14 tahun di Yogyakarta.
Faktor Penyebab dan Dampak
Pemberontakan ini dipicu oleh ketidakpuasan Andi Azis dan kelompoknya terhadap kebijakan integrasi yang dianggap mengancam eksistensi NIT. Mereka menolak pembubaran struktur pemerintahan dan militer NIT yang sudah berdiri sejak 1947.
Menurut laporan Kompas, pengiriman pasukan dari Jawa yang besar dan cepat juga memperkeruh situasi, menimbulkan ketegangan militer yang berujung pada konflik terbuka di Makassar.
"Pemberontakan ini merupakan reaksi atas tekanan politik dan militer yang menuntut integrasi cepat NIT ke NKRI," ujar sejarawan lokal yang dikutip dari Tempo.
Perkembangan Setelah Pemberontakan
Setelah peristiwa tersebut, NIT resmi bergabung dengan NKRI pada Agustus 1950. Pada tanggal 5 dan 8 Agustus terjadi pertempuran dan perundingan terkait keberadaan pasukan KNIL di Makassar, yang menjadi bagian dari proses konsolidasi negara kesatuan.
Kejadian ini menandai berakhirnya masa transisi Indonesia dari negara federal ke negara kesatuan, serta menjadi babak penting dalam sejarah integrasi wilayah Indonesia Timur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow