PKI Menuntut Pembentukan Angkatan Kelima untuk Persenjataan Buruh dan Tani 1965
Partai Komunis Indonesia (PKI) menuntut pemerintah Indonesia pada Januari 1965 untuk membentuk Angkatan Kelima sebagai bagian baru dalam ABRI, yang direncanakan berisi 15 juta buruh dan tani yang dipersenjatai. Usulan tersebut diajukan di tengah ketegangan politik dan konfrontasi dengan Malaysia, serta dalam konteks operasi militer Indonesia seperti Trikora dan Dwikora.
Angkatan Kelima yang diusulkan PKI dimaksudkan sebagai unsur kelima dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), yang saat itu sudah terdiri dari Angkatan Darat, Laut, Udara, dan Kepolisian. PKI menyatakan bahwa Angkatan Kelima akan beranggotakan buruh dan tani yang dipersenjatai sebagai kekuatan rakyat yang siap membela negara dan revolusi.
Menurut DN Aidit, Ketua PKI, pembentukan Angkatan Kelima bertujuan untuk memperkuat kekuatan militer dan mengintegrasikan unsur rakyat pekerja dalam pertahanan negara. Dalam konteks ini, PKI menerima dukungan dari pemerintah China yang pada April 1965 mendesak pembentukan Angkatan Kelima dan menawarkan bantuan 100.000 senjata ringan.
Penolakan dari TNI Angkatan Darat
Letjen Ahmad Yani, Panglima Angkatan Darat saat itu, menolak usulan pembentukan Angkatan Kelima. Ia menilai keberadaan Angkatan Kelima tidak efisien karena sudah ada pasukan sipil bersenjata melalui Pertahanan Sipil (Hansip). Penolakan ini menimbulkan ketegangan antara PKI dan militer yang berujung pada krisis politik dan militer tahun 1965.
Peran dan Posisi Presiden Soekarno
Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Besar Revolusi memegang keputusan akhir mengenai pembentukan Angkatan Kelima. Meskipun Soekarno memberikan ruang bagi ide tersebut, akhirnya pembentukan Angkatan Kelima tidak terealisasi secara resmi karena resistensi dari Angkatan Darat dan peristiwa politik yang mengikuti, terutama setelah Gerakan 30 September 1965.
Konteks Politik dan Militer Tahun 1965
Konfrontasi Indonesia dengan Malaysia yang berlangsung sejak 1963 menjadi latar belakang pengusulan Angkatan Kelima. Indonesia sedang mengoperasikan operasi militer seperti Trikora untuk merebut Irian Barat dari Belanda dan Dwikora untuk menghadapi konflik di perbatasan Kalimantan dengan Malaysia. Dalam situasi ini, PKI berupaya memperkuat basis kekuatan militernya lewat Angkatan Kelima.
Selain itu, ormas yang dianggap bagian dari Angkatan Kelima oleh militer antara lain Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia, dan SOBSI. Organisasi-organisasi ini menjadi basis massa PKI yang dipersiapkan untuk dipersenjatai.
Kejatuhan dan Pembubaran PKI serta Angkatan Kelima
Setelah Gerakan 30 September 1965, Angkatan Kelima lenyap dan PKI beserta ormas-ormasnya dibubarkan berdasarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang dikeluarkan oleh Presiden Soekarno dan diimplementasikan oleh Angkatan Darat. Peristiwa ini menandai berakhirnya upaya PKI mengintegrasikan unsur buruh dan tani dalam struktur militer Indonesia.
"Kami mengusulkan 15 juta buruh dan tani dipersenjatai sebagai kekuatan revolusi dalam bentuk Angkatan Kelima," kata DN Aidit, Ketua PKI.
Data Perbandingan dan Fakta Penting
| Tanggal | Peristiwa | Jumlah Anggota | Dukungan |
|---|---|---|---|
| Januari 1965 | Usulan pembentukan Angkatan Kelima | 15 juta buruh dan tani | PKI dan China |
| 1962 | Penggabungan TNI dan Kepolisian membentuk ABRI | – | Resmi pemerintah Indonesia |
| April 1965 | Kunjungan Zhou En Lai ke Indonesia | – | Dukungan senjata ringan 100.000 unit |
| 1965 | Penolakan oleh Letjen Ahmad Yani (TNI AD) | – | TNI AD |
| Setelah 30 September 1965 | Pembubaran PKI dan Angkatan Kelima | – | Angkatan Darat melalui Supersemar |
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow