Perjanjian Bongaya Tetapkan Akhir Perang Makassar dan Dampak Besar bagi Gowa
Perjanjian Bongaya yang ditandatangani pada 18 November 1667 di Bungaya, Sulawesi Selatan, menandai berakhirnya Perang Makassar yang berlangsung sejak 1666. Kesultanan Gowa diwakili Sultan Hasanuddin dan pihak VOC oleh Laksamana Cornelis Speelman dalam penandatanganan tersebut yang membawa dampak besar bagi kekuasaan Gowa.
Perjanjian tersebut mengharuskan Gowa membayar ganti rugi sebesar 250.000 rijksdaalders selama lima musim berturut-turut kepada VOC. Selain itu, benteng-benteng pertahanan Gowa seperti Barombong, Pa'nakkukang, dan Garassi dihancurkan kecuali Benteng Sombaopu yang diserahkan kepada VOC dan dikenal kini sebagai Benteng Rotterdam.
VOC mengerahkan ekspedisi laut dengan 21 kapal yang membawa tentara Eropa, serdadu Ambon, dan pasukan Arung Palakka yang sebelumnya memberontak kepada Gowa. Pertempuran penting seperti jatuhnya Benteng Galesong pada 22 Agustus 1667 dengan korban sekitar 1.000 orang Gowa menjadi titik balik dalam konflik ini.
Latar Belakang Perang Makassar
Perang Makassar dimulai pada 1666 setelah Arung Palakka dan sekitar 10.000 orang Bugis gagal melakukan pemberontakan terhadap Kesultanan Gowa. Bergabung dengan VOC, mereka menjadi bagian dari pasukan ekspedisi yang menekan Gowa.
Jatuhnya benteng-benteng penting Gowa secara berturut-turut pada Agustus hingga November 1667 mengantarkan kedua belah pihak untuk menandatangani perjanjian damai di Bungaya.
Detail Isi Perjanjian
Perjanjian Bongaya terdiri dari 29 poin kesepakatan yang mengatur:
- Kewajiban Gowa membayar ganti rugi kepada VOC dan sekutunya.
- Penyerahan Benteng Sombaopu kepada VOC sebagai simbol kekuasaan baru.
- Pelucutan kekuatan militer Gowa di beberapa benteng strategis.
- Larangan bagi Gowa untuk menjalin hubungan diplomatik dan perdagangan dengan pihak lain tanpa persetujuan VOC.
Menurut laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kesultanan Gowa saat itu merupakan pusat perdagangan strategis yang kuat di Nusantara, sehingga perjanjian ini sangat memengaruhi kontrol perdagangan di kawasan Sulawesi Selatan.
Dampak Perjanjian Bongaya bagi Kerajaan Gowa
Perjanjian ini mengakhiri masa kejayaan Kesultanan Gowa sebagai penguasa tunggal wilayah tersebut. Kekuasaan bergeser ke tangan VOC dan sekutunya. Sultan Hasanuddin sebagai penguasa Gowa menerima kekalahan yang menandai penurunan status politik dan ekonominya.
Johan Setiawan, penulis buku "Arung Palakka: Biografi dan Perjuangannya Dari Tanah Bugis," mengungkapkan bahwa perjanjian ini sekaligus menutup babak panjang konflik bersenjata yang melelahkan.
"Perang Makassar yang berlangsung sejak 1666 berakhir setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya pada 1667, membawa perubahan besar dalam peta kekuasaan di Sulawesi Selatan," kata Johan Setiawan.
Selain itu, perjanjian ini mengatur ketat hubungan dagang dan politik yang membatasi kebebasan Gowa, serta memperkuat posisi VOC sebagai kekuatan kolonial di wilayah timur Indonesia.
Penutup
Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 menjadi tonggak sejarah yang menandai berakhirnya Perang Makassar dan perubahan besar dalam struktur kekuasaan di Sulawesi Selatan. Benteng-benteng yang dulunya milik Gowa kini berada di bawah kendali VOC, dan hubungan politik serta ekonomi diatur secara ketat untuk menjamin dominasi Belanda di wilayah tersebut.
| Tanggal | Peristiwa | Korban/Keterangan |
|---|---|---|
| 22 Agustus 1667 | Jatuhnya Benteng Galesong | Korban Gowa sekitar 1.000 orang |
| 22 September 1667 | Jatuhnya Benteng Barombong | – |
| 7 November 1667 | Jatuhnya Benteng Pa'nakkukang | – |
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow