Mundurnya Perlawanan Mataram terhadap Belanda di Batavia pada 1629
Perlawanan Kerajaan Mataram terhadap VOC Belanda di Batavia pada tahun 1629 mengalami kemunduran yang signifikan. Pada 26 Agustus 2026, catatan sejarah mengungkap bahwa mundurnya perlawanan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor utama yang berperan langsung di medan pertempuran di Batavia.
Kekurangan Logistik dan Serangan Balasan VOC
Serangan kedua Mataram pada 1629 melibatkan sekitar 80.000 pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Puger, Pangeran Purbaya, dan Kyai Adipati Juminah. Namun, pasukan Mataram mengalami kekurangan bahan makanan karena gudang dan lumbung padi mereka dibakar oleh VOC. Hal ini secara langsung melemahkan daya juang mereka di medan pertempuran.
Wabah Penyakit yang Melemahkan Pasukan
Selain kekurangan logistik, wabah penyakit seperti kolera dan malaria menyebar di antara pasukan Mataram yang membendung Sungai Ciliwung sebagai strategi untuk memutus pasokan air VOC. Wabah ini melemahkan jumlah pasukan dan kemampuan bertempur mereka secara signifikan.
Keunggulan Teknologi dan Pertahanan VOC
VOC yang memiliki peralatan perang canggih seperti meriam dan kapal perang berhasil mempertahankan Benteng Hollandia dari serangan Mataram. Keunggulan senjata modern ini membuat perlawanan Mataram sulit menembus benteng yang menjadi pusat pertahanan Belanda di Batavia.
Kronologi dan Dampak Perlawanan Mataram
Penyerangan Mataram ke Batavia terjadi dua kali, yaitu pada 1628 dan 1629. Serangan pertama dengan 10.000 prajurit yang dipimpin Tumenggung Baureksa berakhir gagal dan menyebabkan Baureksa serta Pangeran Manduraja dihukum mati karena kegagalan tersebut. Pada serangan kedua tahun 1629, pasukan Mataram meningkat drastis menjadi 80.000 orang namun tetap tidak berhasil menaklukkan Batavia.
Strategi pembendungan Sungai Ciliwung yang dilakukan untuk memutus suplai air VOC justru menimbulkan wabah kolera yang melemahkan pasukan Mataram sendiri. VOC memanfaatkan keunggulan teknologi dan pertahanan yang kokoh, termasuk pembakaran lumbung padi pasukan Mataram, sehingga membuat pasukan Mataram kehabisan logistik dan akhirnya mundur.
Taktik dan Pemimpin Perlawanan
Pada serangan kedua, pimpinan perlawanan dipegang oleh Pangeran Puger, Pangeran Purbaya, dan Kyai Adipati Juminah. Meskipun jumlah pasukan besar, taktik yang diterapkan tidak mampu mengatasi keunggulan senjata dan pertahanan VOC.
| Tahun | Jumlah Pasukan Mataram | Pemimpin | Hasil Serangan |
|---|---|---|---|
| 1628 | 10.000 | Tumenggung Baureksa | Gagal, pemimpin dihukum mati |
| 1629 | 80.000 | Pangeran Puger, Purbaya, Kyai Adipati Juminah | Gagal, mundur karena logistik dan wabah |
Reaksi dan Dampak Jangka Panjang
Kegagalan perlawanan ini melemahkan posisi Mataram terhadap VOC di Batavia. Sultan Agung yang memerintah antara 1613-1645 wafat pada 1645 dan digantikan oleh putranya Sultan Amangkurat I yang kemudian memilih bersekutu dengan Belanda. Peristiwa ini menandai berakhirnya upaya besar Mataram untuk mengusir VOC dari Batavia.
"Kekalahan Mataram di Batavia disebabkan oleh kombinasi faktor kekurangan logistik, wabah penyakit, dan keunggulan senjata VOC," ujar sejarawan dari Ikatan Dinas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow